Langsung ke konten utama

Postingan

“Freedom Fighters” dan “Freedom Writers”

Oleh : Bambang Haryanto Wajah-wajah sepuh itu muncul. Menjelang momen peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia media massa kita tak jarang dihiasi foto para veteran pejuang ( freedom fighters ) 1945. Koran Kompas  Jawa Tengah edisi 8 Agustus 2007, pada halaman 1, memajang foto para veteran 45 sedang mengikuti upacara memperingati Serangan Umum 4 Hari Kota Solo di Stadion Sriwedari. Sebagaimana hukum alam, jumlah mereka akan semakin surut dari tahun ke tahun. Sebagai generasi muda, apa yang bisa kita lakukan untuk mereka ? Dalam momen memperingati hari yang sama di Solo, juga dilaporkan koran ini, mengenai  peristiwa arak-arakan, seni happening, yang dilakukan pelajar dan guru mereka dari sekolah swasta dengan  tema mengenang perjuangan para pejuang. Acara diakhiri dengan tabur bunga di makam pahlawan. Acara yang positif. Alangkah baiknya bila hura-hura itu juga diikuti aktivitas yang bernuansakan intelektual. Misalnya satu atau dua pelajar berkunjung k...

Dahsyat ! : Lowongan Yang Ada 500, Pelamarnya 100.000 !

Oleh : Bambang Haryanto Kolom “Pojok” Kompas (23/1/2007) menyentil berita seputar lowongan pekerjaan suatu stasiun televisi swasta yang terbuka untuk 500 posisi, tetapi yang melamar 100.000 pelamar. Itulah realitas Indonesia saat ini, betapa pekerjaan semakin sulit diperoleh. Tetapi di sisi lain, fenomena tersebut juga menunjukkan sisi gelap para pencari kerja kita dalam melakukan berburu pekerjaan. Apakah semua mereka itu benar-benar berminat bekerja di industri televisi ? Saya yakin, sebagian besar hanya ikut-ikutan. Efek ikut-ikutan itu membuat mereka hanya mampu mengerubungi lowongan pekerjaan yang informasinya terbuka untuk publik. Mereka  sengaja menerjunkan diri dalam persaingan yang seperti fenomena di atas, bisa dibilang tidak masuk akal dan berimbas yang merugikan diri mereka sendiri. Kalau mereka ingin terjun ke dunia televisi, sebaiknya dirintis sejak kuliah. Misalnya dengan magang di stasiun televisi bersangkutan. Tidak berhenti mencari dan belajar tenta...

Ritus Baru: Berlebaran dan Bersedekah Buku

Oleh : Bambang Haryanto Hari Lebaran adalah magnit yang menggerakkan   jutaan manusia untuk pulang mudik, yang penuh warna suka dan duka.   Ritus kembali ke akar itu   konon menyehatkan   nurani pelakunya yang mencoba menemukan oasis di daerah asalnya sebagai bekal mengarungi kehidupan di tahun-tahun berikutnya. Jangan lupa, mudiknya   mereka juga berdampak ekonomi. Uang dari kota menjadi beredar di desa-desa. Merujuk fenomena positif itu telah menimbulkan gagasan : bagaimana kalau mudiknya jutaan kaum mboro   itu dirancang mampu menggoreskan sentuhan yang berdimensi intelektual yang berguna, juga awet, bagi warga daerah asalnya ?   Ringkas kata : mereka dihimbau membawa buku-buku untuk   disumbangkan ke perpustakaan di daerahnya. Baik perpustakaan sekolahnya dulu, atau perpustakaan umum di kotanya. Harian Kompas ini (3/10 /2006 ) misalnya,   menyebut 119.000 pemudik akan masuk Solo. Kalau satu persen dari pemudik itu menyumba...

Keteladanan Abadi Seorang Soe Hok Gie

Oleh : Bambang Haryanto “Berhasil” kataku dalam hati. Rakyat memperhatikan kami dan dengan demikian rakyat juga tahu bahwa mahasiswa tidak hidup dalam menara gading, seperti yang diduga orang. Aku adalah “arsitek” dari long march   (Salemba-Rawamangun) ini. Tujuanku sebenarnya tidak banyak. Aku ingin mahasiswa-mahasiswa ini menyadari bahwa mereka adalah the happy selected few   yang dapat kuliah dan karena itu mereka harus juga menyadari dan melibatkan diri dalam perjuangan bangsanya. Itulah petikan   dari buku Catatan Seorang Demonstran (1983) karya Soe Hok Gie. Catatan yang mengisahkan aksi mahasiswa 11 Januari 1966 saat menentang kenaikan tarif bis dan BBM, pesannya masih relevan untuk para mahasiswa masa kini, sebagai calon pemimpin masa depan.   Generasi masa kini, baik melalui buku atau filmnya, dapat meneladani jejaknya.   Saya ingin menggaris bawahi   pengantar Harsya W. Bachtiar, Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia/FSUI (1980...

Kartupos Gladys Tanda Cinta

Oleh : Bambang Haryanto Kartupos itu bergambar lanskap kota Sevilla, ibukota Andalusia, Spanyol Selatan. Lain kali panorama Birmingham, Inggris,   Guangzhou di Cina, sampai Atlanta di Amerika Serikat. Selain kontak lewat e-mail, saudara saya yang berprofesi sebagai wartawan olahraga selalu mengirimkan kartupos dari tempat ia meliput event olahraga kelas dunia. Aktivitas sederhana itu ia jadikan tradisi dan kini ia tularkan pada putrinya, Gladys,   yang masih TK. Setiap ke luar kota, putrinya ia ajak membeli kartupos bergambar   khas kota setempat. Lalu mengajarinya untuk   menulisi   kartupos itu dengan satu-dua kata atau coretan gambar. Kebetulan Gladys sudah lancar menulis namanya sendiri, alamat, juga nama kakak,   orang tua dan kakek-neneknya. Kartupos-kartupos itu lalu dimasukkan ke bis surat, ditujukan pada dirinya sendiri dan orang tuanya. Bangga Sebagai Pustakawan . Saya (Bambang Haryanto) berfoto bersama Gladys, bulan Juni 2017. Saat ...

Perempuan, Fobi Terhadap Teknologi Informasi ?

Oleh : Bambang Haryanto Teknologi Informasi : Industri Tanpa Perempuan .   Itulah judul   artikel Kendra Mayfield di s itus gaya hidup teknologi informasi Wired (1/12/2001), yang menggambarkan minimnya perempuan berkiprah dalam industri teknologi informasi di Eropa Barat.   Fenomena buram itu   juga meruyak di Indonesia.   Kajian BPPT memperkirakan kaum perempuan Indonesia yang memanfaatkan   Internet pada tahun 2002 hanya 24,14 persen.   Sementara itu peran kaum Kartini kita   pun   dalam ketenagakerjaan TI   lebih dominan   pada posisi administratif, seperti menangani surat elektronik, memasukkan data, atau operator komputer. Masih sedikit sekali perempuan pada posisi tenaga   ahli dan profesional, apalagi dalam struktur pengambilan keputusan dalam industri TI. Bahkan tidak banyak perempuan berperan sebagai ilmuwan komputer dan programmer.   Mengapa karier   bidang   TI tidak menarik kalangan pere...

Keterampilan Menulis Itu Penting Untuk Sukses Karier Anda!

Oleh : Bambang Haryanto Lomba penulisan resensi buku guna meningkatkan minat baca   untuk siswa SD/MI se-Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh LPPSP Semarang dan Perpustakaan Jawa Tengah (Kompas, 29/7/2004), pantas mendapatkan sambutan. Sebab orang yang menulis itu otomatis orang yang membaca, tetapi tidak berlaku sebaliknya.  Dengan demikian, menurut hemat saya, untuk meningkatkan minat baca maka yang   harus dipacu adalah justru kebiasaan menulis pada anak didik kita. Pelajaran mengarang, menulis kreatif, harus digalakkan. Para guru/orang tua dapat memberikan apresiasi dengan menempelkan karya anak-anak itu di majalah dinding sekolah atau rumah, mengirimkannya ke media massa, atau memajangnya di media Internet. Menulis adalah proses terpenting untuk mengawetkan ilmu pengetahuan.   Thomas L. Madden dalam bukunya F.I.R.E – U.P. Your Learning : Bangkitkan Semangat Belajar Anda – Petunjuk Belajar Yang Dipercepat Untuk Usia 12 Tahun Keatas (Gramedia, 20...