Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label strategi berburu pekerjaan

Memilih Pekerjaan : Memilih Yang Ada ataukah Yang Sesuai Cita-cita ?

Oleh : Bambang Haryanto Kasus : “Banyak juga saya denger waktu dulu ketika sama sama cari kerja, sesama pencari kerja yang gengsian . Alias milih-milih kerja. Pada awalnya lebih idealis, mengikuti visi pribadi, mencari pekerjaan yang cocok. Kalau menurut saya,  apa pun kesempatan itu harus kita ambil. Baik perusahaannya itu baru mulai berdiri, perusahaannya masih rugi, yang pasti kita yang masih fresh graduate membutuhkan pengalaman kerja.  Hal itu yang kadang membuat teman-teman fresh graduate merasa terlena, merasa lulusan universitas negeri top, indeks prestasi diatas rata-rata, lalu memilih-milih perusahaan.   Alhasil tidak mendapatkan apa-apa, lalu kesempatan itu menjadi hilang satu persatu.” ( Angga ). Solusi: “ Anda mungkin mendengar banyak pendapat bahwa “pekerjaan apa pun yang ada akan lebih baik daripada tidak ada pekerjaan!” saat ini. Percayalah, hal itu tidak benar. Mungkin Anda tergoda untuk melamar pekerjaan apa pun yang Anda temu...

Lulusan Sarjana Ber-IPK Tinggi Bukan Jaminan Mudah Memperoleh Pekerjaan

Oleh : Bambang Haryanto Namanya Sutriyani (23). Sarjana Pendidikan Fisika Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta dengan IPK 3,49. Setelah wisuda tahun lalu dirinya tidak kunjung mendapatkan pekerjaan, maka anak terakhir dari dua bersaudara ini pun berjualan jamu keliling membantu sang ibu. Dikisahkan bahwa setiap kali dirinya mendapat panggilan dan menjalani tes, Sutriyani selalu gagal di tahap akhir meski nilai tesnya paling tinggi dibandingkan pelamar-pelamar lainnya. "Setiap tes kerja, nilai saya tertinggi. Tapi ternyata yang diterima itu lewat bantuan orang dalam dan ada juga yang bayar. Saya enggak punya uang, ya sudah," tegasnya. Sambil menunggu mendapat pekerjaan lain, sejak bulan Februari 2015 Sutriyani berjualan jamu keliling yang dari tahun 2010 dirintis oleh ibunya. Setiap hari ia harus berkeliling menjual jamu menggunakan sepeda. Namun, setelah harga BBM turun, ia memutuskan berkeliling dengan sepeda motor. Meski bertitel S-1 deng...

“Freedom Fighters” dan “Freedom Writers”

Oleh : Bambang Haryanto Wajah-wajah sepuh itu muncul. Menjelang momen peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia media massa kita tak jarang dihiasi foto para veteran pejuang ( freedom fighters ) 1945. Koran Kompas  Jawa Tengah edisi 8 Agustus 2007, pada halaman 1, memajang foto para veteran 45 sedang mengikuti upacara memperingati Serangan Umum 4 Hari Kota Solo di Stadion Sriwedari. Sebagaimana hukum alam, jumlah mereka akan semakin surut dari tahun ke tahun. Sebagai generasi muda, apa yang bisa kita lakukan untuk mereka ? Dalam momen memperingati hari yang sama di Solo, juga dilaporkan koran ini, mengenai  peristiwa arak-arakan, seni happening, yang dilakukan pelajar dan guru mereka dari sekolah swasta dengan  tema mengenang perjuangan para pejuang. Acara diakhiri dengan tabur bunga di makam pahlawan. Acara yang positif. Alangkah baiknya bila hura-hura itu juga diikuti aktivitas yang bernuansakan intelektual. Misalnya satu atau dua pelajar berkunjung k...