Langsung ke konten utama

Postingan

“Tingkatkan Selalu Profesionalisme di Bidang Anda !” : Pesan Soetaryo Sigit, Tokoh Pertambangan Indonesia

  Oleh : Bambang Haryanto  SOETARYO SIGIT (1929–2014) ialah salah seorang tokoh penting kemajuan pertambangan Indonesia. Dibesarkan dari keluarga sederhana, Sigit dikenal jujur, tekun, dan mencintai ilmu—nilai-nilai yang diajarkan kedua orangtuanya. Nilai-nilai itu membentuk dirinya sebagai pribadi yang penuh integritas dalam berkarya di dunia pertambangan.  Di tengah keraguan pemerintahan Sukarno pada perkembangan sektor pertambangan, Sigit meyakinkan potensi besar pertambangan mineral dan batu bara bagi perekonomian Indonesia. Pada 1967 ia mencetuskan sistem Kontrak Karya. Lalu pada 1975 ia menggerakkan laju industri pertambangan batu bara kita dengan menelurkan Perjanjian Kerjasama Pengusahaan Pertambangan Batubara. Dua ide besar itu dan pengetahuan Sigit mengenai pertambangan Indonesia membuat rekan dan sahabat-sahabatnya lantas menahbiskannya sebagai “kamus hidup industri mineral Indonesia dalam 50 tahun terakhir”. Sekalipun telah pensiun sebagai...

Harapan Laron-Laron S-1 Itu Terbunuh Satu Demi Satu

Oleh : Bambang Haryanto   Dijamin membeludak. Ribuan para pencari kerja dipastikan senantiasa membanjiri Pameran Bursa Kerja atau Job/Career Fair, di mana pun diadakan. Termasuk yang berlangsung di Solo (20-21/7/2011).  Realitas tersebut sebenarnya merupakan sebagian cerminan hal buruk tentang kepedulian lembaga pendidikan kita terhadap para lulusannya.   Lembaga pendidikan itu nampak hanya kemaruk merekrut calon mahasiswa, lalu berusaha cepat meluluskannya. Setelah diwisuda, hanya nasib saja yang menuntun mereka. Membeludaknya pencari kerja yang menerjuni bursa-bursa kerja itu tidak lebih merupakan arena perjudian nasib semata. Sekaligus menunjukkan rendahnya penguasaan metode ilmiah yang mereka reguk di bangku pendidikan untuk diaplikasikan di dunia nyata.   Sebab strategi berburu pekerjaan seharusnya dilakukan secara sistematis. Persis seperti ketika mereka menulis skripsi. Diawali dengan penentuan topik skripsi bersangkutan. Dalam langkah berburu pe...

Menulis Untuk Mencerdaskan

Oleh : Bambang Haryanto Esensi pendidikan adalah mempersiapkan anak didik agar mereka terus mampu belajar, sepanjang hayat. Perkembangan iptek yang cepat membuat pengetahuan dan keterampilan tiap individu   juga cepat sekali usang, walau sering tidak kita sadari. Salah satu cara belajar yang terbaik adalah menulis, karena menulis mempersyaratkan pelakunya harus   juga membaca.   Pembaca tidak selalu penulis, tetapi penulis pastilah seorang pembaca. Merujuk hal penting di atas, saya menaruh salut atas kreasi guru dan murid SD Muhammadiyah Program Khusus Kotabarat Solo. Mereka mengadakan   lomba menulis surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Jumat (21/8/2009). Ratusan surat-surat mereka   itu ditempel pada spanduk putih dan surat yang terbaik akan dikirimkan kepada Presiden SBY.   Sebagai penggerak komunitas penulis surat pembaca, Epistoholik Indonesia, saya usulkan agar semua surat mereka itu didokumentasikan dalam bentuk CD atau...

“Freedom Fighters” dan “Freedom Writers”

Oleh : Bambang Haryanto Wajah-wajah sepuh itu muncul. Menjelang momen peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia media massa kita tak jarang dihiasi foto para veteran pejuang ( freedom fighters ) 1945. Koran Kompas  Jawa Tengah edisi 8 Agustus 2007, pada halaman 1, memajang foto para veteran 45 sedang mengikuti upacara memperingati Serangan Umum 4 Hari Kota Solo di Stadion Sriwedari. Sebagaimana hukum alam, jumlah mereka akan semakin surut dari tahun ke tahun. Sebagai generasi muda, apa yang bisa kita lakukan untuk mereka ? Dalam momen memperingati hari yang sama di Solo, juga dilaporkan koran ini, mengenai  peristiwa arak-arakan, seni happening, yang dilakukan pelajar dan guru mereka dari sekolah swasta dengan  tema mengenang perjuangan para pejuang. Acara diakhiri dengan tabur bunga di makam pahlawan. Acara yang positif. Alangkah baiknya bila hura-hura itu juga diikuti aktivitas yang bernuansakan intelektual. Misalnya satu atau dua pelajar berkunjung k...

Dahsyat ! : Lowongan Yang Ada 500, Pelamarnya 100.000 !

Oleh : Bambang Haryanto Kolom “Pojok” Kompas (23/1/2007) menyentil berita seputar lowongan pekerjaan suatu stasiun televisi swasta yang terbuka untuk 500 posisi, tetapi yang melamar 100.000 pelamar. Itulah realitas Indonesia saat ini, betapa pekerjaan semakin sulit diperoleh. Tetapi di sisi lain, fenomena tersebut juga menunjukkan sisi gelap para pencari kerja kita dalam melakukan berburu pekerjaan. Apakah semua mereka itu benar-benar berminat bekerja di industri televisi ? Saya yakin, sebagian besar hanya ikut-ikutan. Efek ikut-ikutan itu membuat mereka hanya mampu mengerubungi lowongan pekerjaan yang informasinya terbuka untuk publik. Mereka  sengaja menerjunkan diri dalam persaingan yang seperti fenomena di atas, bisa dibilang tidak masuk akal dan berimbas yang merugikan diri mereka sendiri. Kalau mereka ingin terjun ke dunia televisi, sebaiknya dirintis sejak kuliah. Misalnya dengan magang di stasiun televisi bersangkutan. Tidak berhenti mencari dan belajar tenta...

Ritus Baru: Berlebaran dan Bersedekah Buku

Oleh : Bambang Haryanto Hari Lebaran adalah magnit yang menggerakkan   jutaan manusia untuk pulang mudik, yang penuh warna suka dan duka.   Ritus kembali ke akar itu   konon menyehatkan   nurani pelakunya yang mencoba menemukan oasis di daerah asalnya sebagai bekal mengarungi kehidupan di tahun-tahun berikutnya. Jangan lupa, mudiknya   mereka juga berdampak ekonomi. Uang dari kota menjadi beredar di desa-desa. Merujuk fenomena positif itu telah menimbulkan gagasan : bagaimana kalau mudiknya jutaan kaum mboro   itu dirancang mampu menggoreskan sentuhan yang berdimensi intelektual yang berguna, juga awet, bagi warga daerah asalnya ?   Ringkas kata : mereka dihimbau membawa buku-buku untuk   disumbangkan ke perpustakaan di daerahnya. Baik perpustakaan sekolahnya dulu, atau perpustakaan umum di kotanya. Harian Kompas ini (3/10 /2006 ) misalnya,   menyebut 119.000 pemudik akan masuk Solo. Kalau satu persen dari pemudik itu menyumba...

Keteladanan Abadi Seorang Soe Hok Gie

Oleh : Bambang Haryanto “Berhasil” kataku dalam hati. Rakyat memperhatikan kami dan dengan demikian rakyat juga tahu bahwa mahasiswa tidak hidup dalam menara gading, seperti yang diduga orang. Aku adalah “arsitek” dari long march   (Salemba-Rawamangun) ini. Tujuanku sebenarnya tidak banyak. Aku ingin mahasiswa-mahasiswa ini menyadari bahwa mereka adalah the happy selected few   yang dapat kuliah dan karena itu mereka harus juga menyadari dan melibatkan diri dalam perjuangan bangsanya. Itulah petikan   dari buku Catatan Seorang Demonstran (1983) karya Soe Hok Gie. Catatan yang mengisahkan aksi mahasiswa 11 Januari 1966 saat menentang kenaikan tarif bis dan BBM, pesannya masih relevan untuk para mahasiswa masa kini, sebagai calon pemimpin masa depan.   Generasi masa kini, baik melalui buku atau filmnya, dapat meneladani jejaknya.   Saya ingin menggaris bawahi   pengantar Harsya W. Bachtiar, Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia/FSUI (1980...