Langsung ke konten utama

Postingan

Efek Disrupsi, Mungkinkah Kembali ke Desa?

Oleh : Rhenald Kasali Pendiri Rumah Perubahan; Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia KOMPAS.COM, 30 April 2018 Saya baru saja meninggalkan kawasan pedesaan yang dipenuhi kebun-kebun anggur yang indah di Tuscany, Italia. Kawasan seperti ini tiba-tiba menjadi lapangan kerja baru, menyusul upaya Uni Eropa untuk kembali ke desa. Menyeberang ke Porto, guide saya, calon dokter dari Lisbon bercerita tentang mundurnya perekonomian dan lapangan pekerjaan di Portugal. Sambil menarik nafas dalam, ia menyampaikan, kekasihnya harus pindah ke Brazil untuk mendapatkan pekerjaan. “Di Portugal..” ujarnya. “Lebih dari 40 persen kaum muda sudah pindah untuk bekerja ke luar negeri,” tambahnya. Itu sebabnya, Uni Eropa sudah berkomitmen menyalurkan 100 miliar Euro dana desa selama 6 tahun (2014-2020) untuk membangun pertanian dan ekologi. Kembali ke Desa Tetapi Indonesia lebih serius. Memang bukan karena ancaman disrupsi, tapi hampir pasti disruption akan memasuki tahap t...

Inilah Pekerjaan Yang akan Hilang Akibat “Disruption”

Oleh : Rhenald Kasali Founder Rumah Perubahan Mungkin Anda sempat menerima video tentang Google Pixel Buds. Wireless headphone seharga 159 dollar AS yang akan beredar bulan depan ini, dipercaya berpotensi menghapuskan pekerjaan para penerjemah. Headphone ini mempunyai akses pada Google Assistant yang bisa memberikan terjemahan real time hingga 40 bahasa atas ucapan orang asing yang berada di depan Anda. Teknologi seperti ini mengingatkan saya pada laporan PBB yang dikeluarkan oleh salah satu komisi yang dibentuk PBB – On Financing Global Opportunity – The Learning Generation (Oktober 2016). Dikatakan, dengan pencepatan teknologi seperti saat ini, hingga tahun 2030, sekitar 2 miliar pegawai di seluruh dunia akan kehilangan pekerjaan. Tak mengherankan bila mulai banyak anak-anak yang bertanya polos pada orang tua, “mama, bila aku besar, nanti aku bekerja di mana?” Otot Diganti Robot Perlahan-lahan teknologi menggantikan tenaga manusia. Tak apa kalau itu me...

Lulusan Sarjana Ber-IPK Tinggi Bukan Jaminan Mudah Memperoleh Pekerjaan

Oleh : Bambang Haryanto Namanya Sutriyani (23). Sarjana Pendidikan Fisika Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta dengan IPK 3,49. Setelah wisuda tahun lalu dirinya tidak kunjung mendapatkan pekerjaan, maka anak terakhir dari dua bersaudara ini pun berjualan jamu keliling membantu sang ibu. Dikisahkan bahwa setiap kali dirinya mendapat panggilan dan menjalani tes, Sutriyani selalu gagal di tahap akhir meski nilai tesnya paling tinggi dibandingkan pelamar-pelamar lainnya. "Setiap tes kerja, nilai saya tertinggi. Tapi ternyata yang diterima itu lewat bantuan orang dalam dan ada juga yang bayar. Saya enggak punya uang, ya sudah," tegasnya. Sambil menunggu mendapat pekerjaan lain, sejak bulan Februari 2015 Sutriyani berjualan jamu keliling yang dari tahun 2010 dirintis oleh ibunya. Setiap hari ia harus berkeliling menjual jamu menggunakan sepeda. Namun, setelah harga BBM turun, ia memutuskan berkeliling dengan sepeda motor. Meski bertitel S-1 deng...

“Tingkatkan Selalu Profesionalisme di Bidang Anda !” : Pesan Soetaryo Sigit, Tokoh Pertambangan Indonesia

  Oleh : Bambang Haryanto  SOETARYO SIGIT (1929–2014) ialah salah seorang tokoh penting kemajuan pertambangan Indonesia. Dibesarkan dari keluarga sederhana, Sigit dikenal jujur, tekun, dan mencintai ilmu—nilai-nilai yang diajarkan kedua orangtuanya. Nilai-nilai itu membentuk dirinya sebagai pribadi yang penuh integritas dalam berkarya di dunia pertambangan.  Di tengah keraguan pemerintahan Sukarno pada perkembangan sektor pertambangan, Sigit meyakinkan potensi besar pertambangan mineral dan batu bara bagi perekonomian Indonesia. Pada 1967 ia mencetuskan sistem Kontrak Karya. Lalu pada 1975 ia menggerakkan laju industri pertambangan batu bara kita dengan menelurkan Perjanjian Kerjasama Pengusahaan Pertambangan Batubara. Dua ide besar itu dan pengetahuan Sigit mengenai pertambangan Indonesia membuat rekan dan sahabat-sahabatnya lantas menahbiskannya sebagai “kamus hidup industri mineral Indonesia dalam 50 tahun terakhir”. Sekalipun telah pensiun sebagai...